Detail Artikel
Hari Santri dan Cara Generasi Masa Kini Melanjutkan Perjuangan
10 kali | Wilda Rusydiana Izza - 22 Oct 2026
KOPIAH – Peringatan Hari Santri setiap 22 Oktober tidak hanya menjadi pengingat atas peran ulama dan santri dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, tetapi juga momentum untuk melihat kembali kontribusi generasi santri pada masa kini.
Salah satu peristiwa yang melatarbelakangi penetapan tanggal peringatan tersebut ialah Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945, yang menyerukan perlawanan terhadap ancaman kembalinya kekuasaan kolonial.
Gagasan Hari Santri Nasional bermula dari saran ratusan santri Pondok Pesantren Babussalam, Malang, pada 2014. Joko Widodo yang saat itu masih menjadi calon presiden menyambut usulan tersebut dan berkomitmen menetapkannya pada 1 Muharram.
Namun, PBNU mengusulkan 22 Oktober karena bertepatan dengan peristiwa Resolusi Jihad yang dicetuskan KH Hasyim Asy'ari pada 1945 untuk menyerukan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Akhirnya, Presiden Joko Widodo menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional melalui Keppres Nomor 22 Tahun 2015.
Lebih dari delapan dekade telah terlewati sejak peristiwa Resolusi Jihad, sehingga generasi santri masa kini jelas hidup dalam situasi yang berbeda. Perkembangan teknologi, perubahan pola komunikasi, dan semakin luasnya akses informasi menghadirkan peluang sekaligus tantangan baru.
Jika generasi terdahulu berjuang mempertahankan kemerdekaan lewat:
- keberanian menghadapi penjajahan dengan alat tradisional
- kesediaan mengambil peran dalam menghadapi persoalan masyarakat.
Maka generasi sekarang menghadapi tanggung jawab untuk mengisi kemerdekaan melalui:
- pendidikan,
- pengembangan kapasitas diri, dan
- kontribusi kepada masyarakat baik dengan cara langsung maupun ruang digital.
Perbedaan situasi tersebut tidak lantas membuat perjuangan generasi terdahulu kehilangan relevansi. Sebaliknya, Hari Santri dapat menjadi momentum untuk memahami nilai-nilai yang diwariskan para ulama dan santri, sekaligus melihat bagaimana nilai tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sekarang.
Di era perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, belajar, dan berkomunikasi.
Bagi generasi santri, perubahan ini membuka akses yang lebih luas terhadap sumber pengetahuan dan berbagai kesempatan untuk mengembangkan keterampilan. Proses pendidikan/belajar tidak lagi terbatas pada ruang kelas atau lingkungan pesantren, tetapi dapat dilengkapi dengan beragam sumber belajar digital.
Meski demikian, kemudahan akses informasi tidak selalu diikuti kemampuan untuk menilai kualitas informasi yang diterima. Informasi yang beredar di media sosial, misalnya, dapat memuat kekeliruan atau disampaikan tanpa konteks yang memadai. Kondisi ini menuntut kecakapan dalam memeriksa sumber, memahami isi informasi, dan mempertimbangkan dampaknya sebelum menyebarkannya kepada orang lain.
Di sisi lain, ruang digital juga memberikan kesempatan bagi santri untuk memperluas jangkauan kontribusinya. Pengetahuan yang diperoleh di pesantren dapat disampaikan melalui tulisan, diskusi, maupun konten edukatif yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Namun, pemanfaatan ruang tersebut perlu disertai tanggung jawab agar aktivitas digital tidak sekadar mengikuti tren, tetapi juga memberikan manfaat.
Perubahan zaman turut menuntut santri untuk terus mengembangkan kapasitas diri selain memperdalam ilmu agama, seperti:
1. keterampilan komunikasi,
2. kemampuan berpikir kritis,
3. literasi digital, dan
4. pengetahuan di berbagai bidang yang diminati
Ilmu-ilmu tersebut dapat menjadi bekal untuk menghadapi persoalan masyarakat yang semakin beragam. Pengembangan kemampuan tersebut tidak harus dipertentangkan dengan tradisi pesantren, tetapi dapat berjalan beriringan dengan nilai-nilai yang dipelajari di dalamnya.
Perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan merupakan bagian penting dari sejarah bangsa. Generasi sekarang mungkin tidak menghadapi situasi yang sama, tetapi tetap memiliki kesempatan untuk meneruskan nilai perjuangan tersebut melalui bidang yang ditekuni dan lingkungan tempat mereka berada.
Kesungguhan menuntut ilmu, kemampuan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, serta kepedulian terhadap masyarakat merupakan beberapa bentuk kontribusi yang dapat dilakukan. Tidak semua santri harus menempuh jalan pengabdian yang sama, sebab setiap orang memiliki kemampuan dan kesempatan yang berbeda.
KH Ma’ruf Amin saat menjabat sebagai Rais Aam PBNU menegaskan, sebutan santri bukan hanya diperuntukkan bagi orang yang berada di pondok pesantren dan bisa mengaji kitab. Namun, santri adalah orang-orang yang meneladani para kiai.
Karena itu, Hari Santri dapat menjadi momentum untuk melihat kembali sejauh mana nilai-nilai yang dipelajari telah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mengenang perjuangan terdahulu merupakan bagian penting dari peringatan ini, tetapi meneruskan semangatnya melalui tindakan nyata juga tidak kalah penting.
Sumber:
- Humas BAZNAZ Cianjur. (2025). Sejarah Hari Santri Nasional 22 Oktober dan Tujuan Memperingatinya. BAZNAZ Cianjur.
- Lukman Hakim. (2025). Sejarah Hari Santri yang Diperingati Tiap Tanggal 22 Oktober. Jateng.nu.or.id.
- Fathoni Ahmad dan Abdullah Alawi. (2019). Hari Santri dan Sejarah Resolusi Jihad NU 22 Oktober. nu.or.id
Sumber gambar: pinterest.com/cangdesain
- Fathoni Ahmad dan Abdullah Alawi. (2019). Hari Santri dan Sejarah Resolusi Jihad NU 22 Oktober. nu.or.id
Sumber gambar: pinterest.com/cangdesain
Penulis: Wilda Rusydiana Izza
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!