Detail Kegiatan

Meneladani Sisi Humanis Rasulullah dalam Menepis Toxic Positivity

Meneladani Sisi Humanis Rasulullah dalam Menepis Toxic Positivity

53 kali | Naura Nahdiyatus Sholihah - 25 Aug 2026

BUNGAH – Di era media sosial yang serba aesthetic ini, kita hidup dalam budaya yang menuntut untuk selalu terlihat “baik-baik saja”. Menangis sering kali dianggap sebagai tanda kelemahan atau ketidakmampuan dalam menghadapi masalah. 

“Jangan cengeng dong!” “Udah, move on aja.” 
Kalimat-kalimat singkat dan sederhana itu, tanpa sadar akan membuat banyak dari kita yang belajar menahan air mata demi terlihat kuat dan baik-baik saja.

Tapi, sebagai Pelajar NU, pernahkah kita merenung: Jika menangis itu tanda lemah dan kurang iman, lalu mengapa Kanjeng Nabi Muhammad SAW juga menangis?

Di momen memperingati Maulid Nabi ini, mari kita kesampingkan sejenak narasi sejarah peperangan dan kemenangan. Untuk kali ini, kita akan menelusuri sisi humanis Rasulullah yang justru paling dekat dengan realitas perasaan kita sehari-hari, yang sayangnya sering kita lupakan.

Kanjeng Nabi tidak hidup dalam sifat/perilaku yang menjauhkan beliau dari rasa sakit dan realitas manusia biasa. Beliau pernah merasakan pedihnya penolakan, kerinduan, hingga kehilangan orang-orang tersayang seperti Sayyidah Khadijah r.a., Abu Thalib, hingga putra-putri beliau.

Salah satu momen paling menyentuh dalam kehidupan Rasulullah adalah ketika putra beliau dari Mariyah al-Qibtiyah, yakni Ibrahim, wafat di usia yang masih sangat kecil. Kehilangan seorang anak adalah ujian terberat bagi hati para orangtua, tak terkecuali bagi seorang Utusan Allah.

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a., Rasulullah menitikkan air mata saat Ibrahim meninggal dunia. Melihat hal itu, para sahabat sampai merasa heran dan bertanya, "Engkau juga menangis, wahai Rasulullah?"

Jawaban Kanjeng Nabi saat itu adalah puncak dari kecerdasan emosional seorang manusia: “Sesungguhnya mata ini menangis, hati ini bersedih, namun kami tidak mengucapkan sesuatu kecuali yang diridhai Allah. Kami benar-benar bersedih karena kepergianmu, wahai Ibrahim.” (HR. Al-Bukhari no. 1303; Muslim no. 2315).

Dari hadis tersebut, Kanjeng Nabi mengajarkan nilai Tawassuth (jalan tengah) yang sangat relevan dengan keilmuan psikologi hari ini.

  • Pertama, beliau memvalidasi perasaannya secara nyata: matanya berlinang, hatinya bersedih. Dalam ilmu psikologi modern, menangis adalah bentuk ekspresi emosi yang sangat wajar. Menekan emosi terus-menerus demi terlihat kuat justru berdampak buruk bagi kesehatan mental dalam jangka panjang, seperti memicu kecemasan hingga depresi. Dengan memberi ruang untuk mengakui rasa sedih itulah, diri kita juga memulai proses pemulihan.

  • Kedua, meskipun bersedih, Kanjeng Nabi tidak kehilangan kendali atas lisan dan dirinya. Beliau tidak tenggelam dalam keputusasaan. Di sinilah letak batasannya. Islam mengajarkan bahwa sabar bukan berarti dilarang menangis, melainkan tetap mampu mengendalikan diri dan arah hati kepada Allah SWT.

Selain karena duka, Rasulullah juga pernah menangis karena rindu kepada umatnya, khawatir akan dosa-dosa kita, saat mengingat hari pembalasan, hingga saat mendengar lantunan ayat Al-Qur'an dari Abdullah bin Mas'ud r.a. Air mata beliau bukanlah kelemahan, melainkan bukti kelembutan hati yang terus "hidup" dan terhubung dengan Allah.

Bagi kita, para Pelajar NU Bungah, keteladanan ini sangat berharga. Jika suatu hari kamu dihadapkan pada kegagalan, kehilangan, atau rasa lelah belajar, ingatlah bahwa kamu tidak dituntut menjadi robot yang tidak punya perasaan.

Kita boleh sedih. Kita boleh menangis. Emosi yang diakui tidak akan menguasai kita, justru melalui Muhasabah (evaluasi diri) dan Tawakkal (berserah diri), kesedihan itu bisa mematangkan jiwa kita.

Kekuatan sejati bukanlah memaksakan diri tersenyum saat hati hancur. Kekuatan sejati adalah keberanian mengakui emosi tersebut, menangisinya sejenak, lalu mengarahkannya kembali kepada Sang Pencipta. Karena air mata yang membawa kita tersungkur di atas sajadah, jauh lebih baik daripada tawa yang menjauhkan kita dari-Nya.

Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H. Mari teladani sisi humanis beliau, Sang Rahmatan lil 'Alamin. 

اَللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Sumber gambar: pinterest.com/Anaaawi

1 Komentar

syhr
syhr 3 weeks ago
Masyaallah, Allahumma sholli ala sayyidina muhammad💚

Tinggalkan Komentar

Email digunakan untuk memuat avatar Anda dari Gravatar.